Wednesday, 22 September 2010

Au pairs


Prolog

Bezirk 16 Ottakring
. Jam 23.30. Setrikaan masih menggunung di keranjang biru. Sialan, kerja rodi lagi malam ini, rutuk gadis berbadan kurus berambut panjang sepinggang.
Kreeekkk..kreeekk..Astri menekuk badan ke kiri dan ke kanan, gaya orang mau senam. Capek banget kerja seharian! Gila aja, dari jam 07.30 sampai jam segini. Astri melirik jam yang nongkrong di atas meja kamarnya. Jam berbentuk babi yang hidungnya hampir menutupi mukanya yang tembem.
Also, jetzt muss ich los! Astri mengambil setrika dari dalam lemarinya. Satu per satu baju dia gosok baju-baju itu dengan teliti. Peluhpun mulai membasahi tubuhnya. Bbrrrrtt….brrrtttt…getar hp yang ia taruh di atas meja kecil di sebelahnya meja setrika. Astri langsung menyahut samsung kesayangannya.
„Halo, mbak Rani apa kabar?“ sapanya ramah.
„Kabar baik, say. Maaf ya, malam-malam mengganggu!“ terdengar suara Rani yang sedikit berat. Sepertinya ia juga kecapekan, atau mungkin ngantuk, pikir Astri.
„Ah, nggak papa,mbak. Kok belum tidur!“
„Biasa lagi BS (babysitting) di tempat Margarete!“
„Kamu sendiri, belum tidur?“ tanya Rani
„Belum nih, mbak. Lagi setrika! Masih banyak setrikaanku.“
„Hah? Setrika, malam-malam begini?“ ucap Rani setengah tak percaya.
„He eh, emmm..mbak, maaf, besok aja ya dilanjut telponnya!“
„Maaf banget, aku mau lanjutin acara nyetrika.“
„Oh iya, lanjut deh. Eh, kalau capek jangan dipaksain ya!“
„Seep! Dadaaaa, mbak Rani!“
„Daa..“ klik. Astri mematikan telponnya
Malam semakin larut. Sunyi banget. Suara jangkrikpun tak ada. Oh iya, aku lupa, di sini mana ada jangkrik ya??!! bisiknya dalam hati. Badan dan pikiran Astri sudah susah diajak kompromi. Melihat kasur, bantal ama gulingnya serasa melihat surga. Indahnya bila aku berbaring di sana, batinnya.
Ia pun ngebut menggosok baju-baju yang ada di keranjang. Ah, yang penting rapi. Ntar kalau dah selesai langsung tidur. Pasang wecker, biar esok nggak kesiangan. Miris dia merasakan hari-harinya. Semakin hari kok, semakin banyak kerjaan. Mirip pembantu saja!,gumannya. Tiba-tiba ia teringat akan ayah ibunya di Jakarta. Rasa rindu menyelimuti hatinya.

Rumah keluarga Hoffman
Rani asyik memencet-mencet tombol remote TV. Ah, males! Acaranya nggak seru. Jam malam. Siarannya cuman yang syur-syur mulu, masak nggak ada suara lain selain suara orang mendesah-desah! sungutnya sambil meraih kopi yang barusan dia buat. Kemudian, dia melangkah ke kamar tidur Antonia. Dengan mengendap-edap perlahan dia menuju ke tempat tidur anak kecil itu. Pintu kamar sengaja ia tutup rapat-rapat. Anak itu, sangat sensitif pendengarannya. Pernah suatu malam, di mana orang tuanya pulang, dia justru terbangun mendengar suara ayah ibunya ngobrol dengan Rani. So, mending pas Antonia tidur, Rani memilih pake „babyphone“ lebih aman!
Aii, manis banget liat wajah polosnya yang lagi nyenyak tidur. Rani membetulkan letak selimut kecilnya. Sejenak dia memandang dan mengelus-elus rambut Antonia penuh kasih. Lucu banget, rambut emak ama bapaknya bocah ini item. Lah, kok anak kecil ini rambutnya blonde. Ah dasar anak bule, cepet berubah-ubah. Warna mata juga bisa berubah-ubah, coklat, trus agak besaran jadi biru, eh udah gede malah jadi abu-abu. Asal nggak jadi putih sih nggak papa!
Rani kembali menutup kamar dan beranjak ke ruang tamu. Hmm, hari ini 6 jam aku BS, lumayan juga penghasilanku kali ini. Nungguin anak tidur dapat 60 euro.
Brrrpp…brpppp..sebuah sms masuk dari Prilla temennya! Chef! Besok aku bikinin rempeyek kacang hijau 2 bungkus, rendang buat 4 porsi sama klepon. Eh, iya kemaren aku nyoba bikin klepon ngga jadi. Nasib! Alhamdulillah, rezeki!, batin Rani sambil tersenyum-senyum.

Kamar Sita, Penzing
„Halo yung, Rika kepriben kabare?“
„Apek, sehat. Lah, rika kepriben? Kerasan ora ning kana?“ suara ibunya Sita dari belahan bumi yang lain. Jam 24 waktu Austria. Selisih waktu musim panas sekitar 6 jam. Jadi kira-kira jam 6 pagi waktu Indonesia.
„Iya, inyong bae-bae. Inyong kerasan nang kene!“
„Syukur alhamdulillah, biyung melu seneng..“
„Biyung rasah kawatir karo inyong!“
„Iya“
Terdengar alunan suara serak ngapak Sita dari dalam kamarnya. Gadis manis berlesung pipi dan berwajah bulat dari Cirebon.
„Wes, sesuk bae inyong sing telpun. Kan larang telpun seko kana.Wes ya, Yung, daa…!“
Tuuutt…tuuuuttt..tuuuutt…Sita pun menutup memutus telpun. Baru 2 minggu, Sita di kota Wina. Sebenarnya, biyung enggan melepaskan anak semata wayangnya ini ke luar negeri. Bayangkan, sepertinya biyung baru saja kemaren menyuapin Sita dengan nasi goreng terasi dan telur dadar, membangunkan dia untuk sholat subuh, sekarang biyung harus berdua dengan suaminya yang biasa Sita sebut „Rama“ berduaan saja. Sepi. Tapi ada daya biyung, cita-cita Sita ke luar negeri lebih kuat.
Pesan biyung,“Aja lali sama kampung halaman ya, nok! Inget keluarga! Inget karo gusti Allah, sholat!“ Kalimat itulah kalimat yang terakhir terdengar oleh Sita di bandara cengkareng. Ia pun buru-buru ngacir ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Belum sholat Isya!

Samping kedutaan Jerman, 1030 Wien
Treeeett…treeeettt…treeeettt….treeeeettt
Ah, suara itu lagi, siapa sih malam-malam kirim fax, gangguin orang lagi tidur aja, rutuk Vika kesal. Dengan mata setengah terpejam, rika membuka pintu kamarnya yang terhubung langsung dengan ruangan sebelah yang dipakai kantor oleh keluarga asuhnya.
Woaahhmmm…gadis itu menguap keras sambil mengucek-ucek mata. Dia keliatan celingukan mencari-cari saklar lampu. Nah ini dia, bisiknya. Klik. Vika sengaja menutup matanya sejenak, lalu membukanya pelan-pelan agar matanya terbiasa dengan nyala lampu. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Masih dengan menggenakan piyama, ia berjalan ke arah mesin fax yang sekaligus berfungsi sebagai printer.
Aneh, kok nggak ada? Jelas-jelas tadi aku mendengar suara mesin fax, pikir gadis itu sambil mengamati mesin yang terletak atas meja sudut ruangan kantor. Bolak-bolak ia mencari kertas yang keluar dari mesin ini, tapi nihil. Dia jongkok dan mencari di bawah meja, siapa tahu tadi jatuh ketuip angin. Jendela kantor memang dibiarkan dalam keadaan terbuka sedikitpada malam hari.
Tugas Vika sebenarnya untuk kembali menutupnya ketika Vika mau tidur. Tadi dia kelupaan. Dia benar-benar meyakinkan bahwa pendengarannya masih bagus. Rasa-rasanya aku nggak salah dengar, masa iya sih aku mimpi dengar orang kirim fax, dia masih saja meyakinkan diri.
Tiba-tiba dia terlonjak ketika mengamati kabel yang terhubung dengan mesin fax. Oh, nein, nein, es geht nicht…neiiiinnn….dia seolah-olah tak mempercayai penglihatannya. Kabel itu tidak terhubung ke mesin fax. Lalu? Tadi suara apa??Bulu kuduknya tiba-tiba serempak berdiri. Lariiiii…..
Ia buru-buru lari ke dalam kamarnya, menutup pintu rapat-rapat. Tubuhnya menggigil, bersembunyi di balik selimut sambil komat kamit mulutnya. Arrgggghhh….aku paling benci di kamar sendiri. Kenapa sih, Mila pake acara nginep di rumah temennya segala, teriaknya kesal pada dirinya sendiri.
Mila adalah teman sekamar, eh setempat tidur Vika. Sebenarnya, Mila dan Vika punya fasilitas kamar sendiri-sendiri. Berhubung, Vika masih baru, diapun minta ditemenin Mila yang lebih duluan menjadi anak asuh di keluarga Weiss. Kebetulan juga, Vika dan Mila sama-sama dari kota yang mendapat julukan paris van java.
***********************************************************

Pesan dari Au pairs : Jangan pernah samakan kami (au pair) sebagai TKW/TKI

Monday, 15 June 2009

available in australia

My novels available in the national libraby of australia now.

http://nla.gov.au/nla.cat-vn4545998

http://nla.gov.au/nla.cat-vn4546002


Bule, emping & tempe bacem / Bintang Alzeyra
Book
Bib ID 4546002
Format Book
Author Alzeyra, Bintang
Description Bekasi : FoUmediapublisher, 2008.
193 p. ; 19 cm.
ISBN 9789791871648




Vienna, aku jatuh cinta = Verliebt in Wien / Bintang Alzeyra
Book
Bib ID 4545998
Format Book
Author Alzeyra, Bintang
Description Bekasi : FoUmediapublisher, 2008.
150 p. ; 19 cm.
ISBN 9789791871617

Saturday, 13 December 2008

Beredar di Jawa - Bali

Kedua novelku sudah beredar di seluruh jawa dan bali. Dapetin segera di Gramedia dan toko-toko buku yang lain!
Segera di www. kutukutubuku.com atau www.bukabuku.com

Buruan beli...

Friday, 10 October 2008

Coming soon!!







Ada kabar gembira buat teman-teman yang belom baca verliebt in Wien, Vienna aku jatuh cinta.
Novel ini (edisi revisi) akan dicetak ulang ama Foumediapublisher bulan november.
Novel Bule, Emping dan Tempe Bacem segera akan dilempar ke pasaran bulan Desember.
Doain ya, saya bisa mudik buat lounching!






Friday, 30 May 2008

Bule, Emping dan Tempe Bacem episode Betjak oh Betjak

Tak terasa sudah 5 bulan aku di Jogja. Dah pertengahan april, sejak kedatanganku di akhir november 2006. Aku kok kerasan banget ya di Jogja, kotanya bener-bener nyaman. Orang-orangnya ramah. Hampir setiap orang yang kutemui selalu ber-say ’hello’ padaku. Aku pun kerasan tinggal di hotel ini, lokasinya tidak terlalu bising, dekat dengan Malioboro, pegawai hotelnya pun ramah. Rupanya memang sengaja mereka membuat aku betah tinggal di sini.

Sekarang udah bulan ke 5 aku di hotel ini. Ya harga yang murah dibandingkan harga kamar hotel di negaraku. Sehari aku cukup membayar 200 rb, itu sudah termasuk makan pagi. Seharian ini aku cuma di kamar, aku musti pilah-pilah hasil jepretanku di laptop kesayanganku. Wah gila hampir jam 7 malam. Aku ngga mau ketinggalan ah. Yup..dah beres semua. Tadi Sukira bilang, kalau hari ini dia mau jemput aku buat nonton tarian Ramayana di THR (Taman Hiburan Rakyat) yang letaknya tak jauh dari keraton Jogjakarta. Sebenarnya aku pingin liat pertunjukan tarian Ramayana di dekat candi Prambanan, tapi karena ga setiap malam minggu ada tarian ramayana di Prambanan ya udah deh, aku manut aja ketika dapat solusi dari Ari kalau di THR ada juga tarian Ramayana yang kaga beda jauh ama pertunjukan di panggung terbuka Prambanan. Walaupun di panggung terbuka Prambanan kata Rere lebih keren coz ada latar belakang candi Prambanan di belakangnya plus dengan lampu yang menyorot ke candi..jadi lebih hidup serasa pasti pertunjukannya kalau di Prambanan.

Ok de.....paling 5 menit juga dateng...5 menit lagi..ah..ahh..aku bersenandung kecil sambil niruin gaya Ine Cintya yang cd nya baru aku beli tadi siang. Lagi asyik asyik aku goyang megal megol ala penyanyi dangdut sambil berkaca di cermin.

Tiba tiba...
Tok..tok..tok...
Terdengar ada yang mengetuk pintu dari luar.

"Ya masuk!”kataku kemudian.

Lalu menyambul sesosok pegawai hotel yang berwajah culun.

"Maaf mbak Carmen, ada temennya mau jemput di bawah. Katanya namanya Sugriwa (nama salah satu tokoh pewayangan)..eh Shakira…ah salah lagi tuh..Sukira nding mbak...”

”Ok. Makasih yah Mas. Bentar lagi saya turun.”

”Permisi, Mbak.”

”Monggo, monggo, matur nuwun,” kataku dengan sopan.

”Inggih mbak,” kata pegawai hotel itu sambil tersenyum ramah. Aku merasa bangga karena bahasa Jawa aku sekarang dah canggih. Walaupun aku ga kursus bahasa Jawa di tempat kursus. Aku sendiri ngga keberatan dipanggil ”mbak”, panggilan yang di peruntukan untuk gadis-gadis Jawa, asal jangan panggil aku ”mbok=ibu atau simbah aja”. Setelah aku beres-beres barang yang mau kubawa. Aku segera menyahut tas pinggang kecilku dan ransel yang setia menemaniku setiap saat...

”Hallo Carmen, are u ready??” kata Sukira .

”Lets go, Dab!!” kataku ke Sukira. Siang itu Sukira dandan rapi, pake celana jeans, T-Shirt, ama jaket jeans. Rambut yang biasanya dia biarkan tergerai, kini disisir rapi dan diikat kebelakang Dab..istilah anak-anak Jogja untuk panggilan akrab seperti bro, lay, coy dan sebangsa setanah airnya.

Kita berangkat bertiga dari Sosrowijayan, kawasan kampung turis yang terkenal di daerah dekat Malioboro. Aku, Ari (temenku juga) and Sukira tentu saja. Dengan bermodal betjak sewaan dari Bogel, akhirnya kamipun bergembira dan bersuka ria dalam perjalanan. Sepanjang perjalanan tak lupa menyanyikan lagu di sini senang di sana senang..biar serasa piknik ke pegunungan gitu. So, yang pertama kali genjot betjak adalah Sukira. Berhubung THR ada di daerah selatan Jogja yang menurut perkiraan letaknya di dataran lebih rendah. Sukira meminta dia yang mengayuh betjak saat berangkat. Jadi aku dan Ari dengan endang.. (enak maksudnya) duduk manis di depan. Sukira yang bertubuh kerempeng tampak ngos-ngosan. Sebenarnya niat hati ingin menolong Sukira. Tapi kayanya dia ngga bakalan tega membiarkan aku menggenjot betjak.. Benarkah Sukira berpikiran seperti aku??? Tentu tidakk..kita buktikan setelah yang satu ini. Eeengggg...iiingg..enggg...

Tak berapa lama kitapun sampe di THR. Uh gila penuh bow, dah mirip kaya cendol , pengunjung malam itu membludak. Tapi untung kita masih kebagian tempat duduk. Setelah membayar tiket untuk kita bertiga. Kamipun dengan penuh hikmat menikmati tarian yang indah dari penari -penari Jogja yang super keren. Ah..sayang si Rere ga ikut. Tadinya sih Rere mau ikut..berhubung dia ga enak badan dengan tiba-tiba, so dia lebih suka tinggal di rumah. Aku sempat sms ke Rere, aku bilang kalau aku sekarang lagi di THR dan siap nonton Ramayana. Tak ada balasan tapi..mungkin tidur kali si Rere. Biasa kerjaan dia molor selama di rumah....mentang-mentang mudik ke Indo jadi kerjaannya molor mulu plus pake celana kolor..huh..bisa bisa tuh anak jadi anak buahnya kolor ijo lagi??? apa hubungannya yah molor ama celana kolor dan kolor ijo?? Kok jadi ngelantur gini.

Lanjut yuk.. 1 jam setengah kemudian pertunjukan selesai. Gileee..keren bener!!! Semua penonton yang rata rata sebangsa ma aku (alias bule) pada terkagum- kagum.... Kamipun meninggalkan tempat di mana kita menonton tarian tadi, lalu berpindah ke tempat lain. Yup, kita mau minum-minum sebentar sambil dengerin musik dangdut. Di THR negh emang kata orang lebih terkenal dengan pertunjukan dangdut dengan penyanyi yang goyangannya erotis banget. So, aku mau buktiin ucapan orang-orang. Kebetulan aku punya cd dangdut yang aku beli minggu minggu ini di sebuah toko kaset and cd di kawasan Malioboro Mall. Si Rere and the gank selalu rajin mempromosikan musik yang menjadi idola sejuta umat. Mereka bilang dangdut is the music of my country (pinjem dari P project). Kalau aku pikir sih, mereka seharusnya diberikan penghargaan di bidang budaya terutama dangdut. Karena merekalah (Rere and the gank) yang mempromosikan secara habis-habisan bahwa kita kita (kaum bule terutama) wajib mendengar, menyimak dan membeli cd atau kaset dangdut walau dalam bentuk cd aseli atau bajakan..hehehehe.

Ngomong-ngomong soal cd bajakan, aku ma Rere kemaren jalan-jalan di sepanjang jalan mataram atau daerah timur Malioboro. Aje gile!!! Disini aku lihat dari ujung selatan sampe ujung utara berjejer-jejer orang jual cd, dan cd yang mereka jual tak lain dan tak bukan adalah cd bajakan semua. Bayangin deh, aku bisa beli 1 cd film hanya dengan merogoh kantong 10rb aja..ck..ck..ckk aku sampe geleng-geleng kepala ngeliatnya. Tapi berhubung aku orangnya rendah hati and ga suka pamer, ikut juga aku beli cd bajakan. Aku beli sekitar 80 biji sekaligus??? Berapa???? 80 biji sodara sodara..sekali lagi 80 biji. Bukannya aku bermaksud mau bikin rental cd sih di Austria. Cuma lumayan ntar kalau dibawa pulang ke negara aku buat oleh-oleh...khan ngirit tuh. Cuma yang aku heran, pedagang di sepanjang jalan mataram ini suka ga nampakin batang hidungnya, atau barang dagangannya, terutama banget di mana ada razia dari petugas. Gila!!! Kok bisa kompak banget yah pedagang sampe tahu ada razia.

Kembali ke THR lagi dengan goyang dangdutnya. Karena promosi dari Rere and the gank soal musik dangdut yang heboh. Akhirnya aku termakan omongan mereka juga. Setelah aku denger dangdut yang aduhai banget musiknya....aduhhh serasa dunia ini berubah 180 derajat!!! aku yang tadinya ga bisa goyang, sekarang aku jadi bisa goyang dari berbagai gaya..mulai dari goyang ngecor (bangunan), goyang ngebor pakai mesin bor, goyang gergaji mesin, goyang patah patah (dari patah tulang ampe patah hati), sampai goyang khayang..nah hebat khan??? Rupanya Rere and the gank juga memberikan tips tips gimana cara bergoyang dengan tertib, aman dan menyahatkan..loh??? So tanpa basa-basi aku ikutin semua petunjuk yang di berikan oleh master-master goyang dari kota Jogjakarta ini. Mereka bilang aku murid bule taladan taon ini untuk pelajaran goyang dangdut dan layak mendapat penghargaan heheheheehe....

Back to dangdut in THR. Gilaa bener..bener-bener gila deh yang anak-anak suka bilang. Penyanyinya erotis banget, mulai dari pakaiannya yang kayanya kurang bahan gitu ampe ke goyangan maut mereka..ck..ck..ck..bikin jakun para lelaki naik turun dengan birama 4/4.Di tambah lagi dengan suara si penyanyi yang mendesah-desah.. Di negaraku paling ada cuma kalau ada pertunjukan striptease doank yang pamer tubuh, emang sih striptease lebih seronok dari pada ini sih. Setelah lelah menonton dangdut sambil minum- minum kamipun segera pulang. Wah gila udah jam 01.00 malem.

”Sangi dab (pulang dab==bahasa Jawa prokem)! ” ajakku ke 2 temenku itu.

Sukira dan Ari langsung mengiyakan. Rupanya ada pikiran licik yang terselip di otak Sukira. Aha..dia bilang dia ngantuk dan ngga bisa narik betjak lagi. So, siapa dunk yang musti naek betjak. Ari??? Wah kasihan tuh anak, badannya kena angin aja udah terbang..gimana musti narik betjak. Berhubung badanku yang paling besar, dengan penuh suka cita dan agak sedikit berberat hati aku menawarkan untuk giliran menggenjot betjak. Walaupun aku akuin, aku sedikit sekali pengalaman dalam dunia pergenjotan. Paling banter sih enjot-enjot sepeda biasa ataupun enjot- enjot kuda yang kaga seberapa susahnya. Lah ini betjak Jogja yang terkenal betjak paling berat dibanding betjak-betjak dari kota kota lainnya.

”Aku yang narik aja deh,” kataku ke mereka.

”Beneran neh?” tanya Ari dan Sukira bersamaan. Kompak abis. Tapi sepertinya mereka cuman basa- basi aja. Dengan lagak sok kasihan mereka bertanya.

”Emang kamu kuat non!” kata Sukira meyakinkan aku, tapi dia sok memasang tampang kasihan kepadaku.

”Iya lah posturku khan lebih besar dari pada kalian,” jelasku sedikit dengan perasaan tertekan, hanya karena masalah fisik orang eropa lebih gede dari pada orang asia yang kecil-kecil. Uuuuhh..sebel!!

”Ok de..tariiikk kaanggg!” kata mereka kompak. Dengan riang gembira mereka menyanyikan lagu kebangsaan para penumpang betjak, betjak-betjak...coba bawa saya, saya duduk sendiri sambil... (waduh lupa syair neh, aseli lupa banget). Mereka rupanya tidak merasakan betapa aku menderita menggenjot betjak. Sialan! Rutukku dalam hati sambil mengutuk mereka menjadi kodok..bim salabim..eh ngga boleh nding mengutuk orang..ya udah aku sabar aja deh. 1...2.... dua makhluk itu dengan tenang naik betjak di depan. Sementara diriku dengan segenap jiwa dan raga terfokus pada betjak yang siap aku genjot. ”Are u ready tjak?”tanyaku ke betjak sambil konsentrasi penuh. Mengerahkan segala energi yang ada saat itu. ”Ready mom,” kata betjak padaku. Jangan kaget yah, di Jogja betjak juga bisa ngomong loh.. Mau bukti???? Datang aja ke Jogja!!! Begitu ketemu betjak langsung aja deh ngomong ke betjak, pasti langsung disangka orang gila yang suka ngomong ama benda mati..hayaahhh!! Siap semua....priittt.....peluit pun disembunyikan, eh dibunyikan. Dengan pelan tapi pasti aku kayuh betjak dengan perlahan...sambil diiringi lagunya anak-anak yang sering dinyanyikan 2 ponakan Rere yang masih TK. Begini nih kira-kira lagu yang sering dinyanyiin mereka di saat berdua naik sepeda. kring..kring...goes..goes..krriingg..kriing..goes ..goes.. Aduh...jadi malah sakit perut neh, denger suara nyanyian sendiri. Semilir angin malam menambah keharmonisan alam dan diriku dalam menarik betjak....mhhhmm..segarnya..udara..sambil kuhirup dalam-dalam udara yang sejuk.

Tiba-tiba..
Ciitt...awassssss...hiyaaaaaaaaaaa.....lontoongggg..sayyyyuuuuuuurrr ……eh tolooooong... Aku terbangun dari mimpi. ..oh mimpikah aku?? Brukkkkkkk.....gedubrakk.... 2 orang yang tadinya duduk di bangku depan betjak tergolek tak berdaya di aspal... Hahaaha.... Aku cuma tertawa bahagia melihat nasib temen aku terkapar sambil meringis-ringis menahan sakit. PS. Dilarang keras menarik betjak sambil melamun, apalagi ngelamun jorok..biasanya pamali atau ra ilok bahasa jawanya!! Rupanya betjak tadi menyenggol pembatas jalan. Aku narik betjak sambil ngelamun sehingga mengakibatkan 2 korban temanku sendiri. Uh untung cuman nyenggol pembatas jalan, coba kalau nyenggol mbok-mbok jamu..wah khan bisa tambah berabe. Maap deh pren..khan aku kan ga sengaja. Kataku meminta maaf ke mereka. Mereka cuman meringis menahan sakit di pantat, sambil megangin muka mereka..loh kok muka??? Yang sakit khan pantat masak megangin muka sih..auukk ah!! Pantat mereka mungkin memar akibar terpental beberapa centimeter dari betjak. Tapi untungnya aja mereka tidak terluka di bagian laen, yah cuma agak lecet-lecet sedikit gitu. Bentar juga sembuh dikasi obat merah atau betadine, trus kalau sakit di bagian pantat serahin aja ke mbok-mbok tukang urut..khan beres!! Hihihihi..tahu rasa yah..ngerjain cewek suruh narik betjak...ya Tuhan ampunkanlah aku yang mengutuk mereka tadi! (kataku dalam hati). Akhirnya Sukira duduk di depan lagi dengan pantatnya yang agak diangkat sedikit karena tadi terjatuh. Sementara Ari dengan terpaksa membantuku dengan mendorong betjak bersamaku dari belakang. Wah berat juga neh, padahal di depan tinggal Sukira yang duduk sendirian. Sialan!! Giliran pulang pasti jalannya nanjak. Pantes Sukira tadi minta duluan yang naek betjak. Kampreett...rupanya tadi Sukira ada niat buruk ama aku, nah rasain deh pembalasanku tadi heheeheheheh

Akhirnya sampai juga aku di hotel. Tanpa ganti baju aku langsung tidur. Capeekk banget rasanya badan ini. Esoknya aku tak sengaja pingin nimbang berat badanku, coz rasanya dah lama ga nimbang. Ah paling naik lagi gara-gara pola makanku ngawur. Tapi ternyata..olala…turun…aseeekk. Setelah narik betjak, berat badanku jadi turun 1 kilo wah lumayan negh. Aku jadi kepikiran juga, menggenjot betjak adalah cara untuk menurunkan berat badan yang efektif dan murah dibanding fitnes. Hal terbukti dengan menarik betjak juga akan menambah penghasilan. Bayangkan dalam sehari aku bisa mengantongi 60-100 rb. Lumayan khan. Berat badan berkurang tapi uang bertambah..cihuuyyy... Selain itu, aku juga ga capek-capek buat bikin kulitku lebih coklat. Yah kaya yang dilakuin orang-orang Eropa berjemur di pantai atau ke salon ”Braunung Studio” yang notabene bikin kulit lebih coklat. Ah, kalau aku mah tinggal sewa betjak si Bogel, trus tinggal pake celana pendek, tanktop ama celana hitem deh. Beres!!!

PS. Tips murah meriah menurunkan berat badan ala Carmen. Sewalah betjak kepada tukang betjak dengan sopan kalau perlu berikan sedikit rayuan, tapi inget..pinjam cuman sama tukang betjak, bukan tukang pijit, tukang parkir ataupun tukang jamu..hayah. Biar mereka tidak kawatir memberikan pinjaman betjak kepada anda, perlihatkan kepada mereka bahwa anda udah mempunyai SIM B = Surat Izin Mengemudi Betjak. Tawarlah harga sewa dengan harga semurah murahnya dengan alasan narik betjak untuk terapi kesehatan. Dijamin dikasi harga murah deh. Eit, jangan lupa dengan muka memelas dan memakai baju compang camping, kalau perlu ga usah pake parfum atau ga mandi sekalian biar keliatan buluk ! Pinjam betjak dalam waktu yang ditentukan bisa 1, 2 hari atau seminggu. Tergantung dari daya tahan tubuh anda. Pergunakan untuk mengayuh betjak selama 1 sampe 2 jam sehari atau 12 kilometer maximal/hari. Dijamin berat badan anda akan turun dalam waktu singkat, tanpa harus mengkonsumsi jamu galian kabel eh galian singset atau teh pelangsing.selamat mencoba!!!

Sunday, 23 September 2007

Bule, Emping dan Tempe Bacem

About this book!!

(sinopsis)


Melihat judulnya pasti dikira buku ini tentang kuliner atau juga malah mirip buku resep masakan. Buku yang disalin dari buku harian Carmen ini adalah buku ke 2 yang saya buat. Buku yang pertama saya tulis adalah ”verliebt in Wien, Vienna aku jatuh cinta ” diterbitkan oleh penerbit cupid tahun 2006. Kalau di buku pertama banyak berkisah tentang indahnya kota Vienna dan sekelumit kisah cinta gadis Indonesia yang tinggal di kota Vienna sebagai Au pair M├Ądchen. Novel yang ke dua ini justru pengalaman sejati teman Rere dari Austria (baca=bule Austria) yang ikut Rere mudik ke Jogjakarta. Di sinilah berbagai kisah konyol dan mengharukan si bule mulai nampak dalam menghadapi dunia yang begitu asing bagi dia. Dari ajaran sesat Rere untuk memakan jengkol, trus anjuran maut dari Sukira untuk makan pete mentah-mentah, kegiatan menurunkan berat badan dengan mengayuh betjak dengan berbagai tips untuk menurunkan berat badan ala Carmen, ketemu muka dengan mbah Maridjan si penunggu Gunung Merapi, mancing di sungai besar tengah malam, belajar membatik di kawasan Tamansari Jogja, belanja di pasar tradisional dan rasa kasihan Carmen terhadap nasib seekor burung yang dijual di pasar burung Ngasem, kegemaran Carmen untuk makan makanan tradisional Jogja ( Emping, Gudeg, Salak rebus, Tempe bacem dan lain sebagainya), Carmen juga belajar bergoyang dangdut dari master-master dangdut Jogja gara-gara terhipnotis melihat goyangan-goyangan erotis penyanyi dangdut di THR (Taman Hiburan Rakyat) Purawisata Jogja , sampe Carmen belajar bahasa Jawa alus sampe bahasa Jawa Prokem. Juga kegiatan-kegiatan gokil yang dilakukan Carmen jarang sekali dilakukan oleh bule-bule lain. Cuman saya dipesenin ama si bule agar namanya diganti dengan nama yang lain demi kenyamanan dia. Tentu saja Carmen baru menguasai bahasa-bahasa indonesia yang belum pakem. Sehingga kami berdua biasa berkomunikasi memakai bahasa Jerman. Sebenarnya dia banyak menuturkan dengan bahasa seadanya, dia hanya sedikit belajar bahasa gaul. Sehingga pure buku ini adalah rekayasa saya tentang penggunaan bahasanya. Moga-moga buku ini bisa menambah wawasan and membuat pikiran pembaca tambah fresh!!! See u all !!!!

Verliebt in Wien


Judul: Verliebt in Wien (Vienna, Aku Jatuh Cinta)
Penulis: Bintang Alzeyra
Penerbit: Cupid
Tahun terbit: 2006
Jumlah halaman: 128

Satu lagi novel dengan genre chicklit menambah daftar panjang pustaka anak negeri. Bintang Alzeyra yang mewarnai sastra Indonesia dengan novel perdananya berjudul Verliebt in Wien, Vienna, Aku Jatuh Cinta.

Novel yang terbilang cukup tipis ini, setebal 128 halaman bercerita tentang secarik kisah perjalanan hidup seorang au pair (istilah pelajar Indonesia yang tinggal di rumah keluarga setempat) di Austria, negara yang menggunakan bahasa Jerman sebagai bahasa resminya.

Novel ini bercerita tentang Rayya, au pair di Austria yang menemukan sebuah cinta yang unik di negara ini. Cintanya jatuh pada Franz, seorang hedonis dan liberal yang dikenalnya melalui Friendster. Franz ternyata dikemudian hari menorehkan luka dalam bagi Rayya. Meski segala pengorbanan diberikan untuk mempertahankan cintanya itu, hingga mengubah dirinya menjadi perempuan yang sepertinya diinginkan Franz, Rayya kemudian memutuskan meninggalkan Franz dan segala kenangan tentang laki-laki itu.

Rayya pun membuka hatinya menerima Jonathan yang memiliki cinta tulus untuk menjadi suaminya. Namun cerita tentang Franz rupanya masih menguntitnya pada suatu kesempatan Rayya kembali ke Austria, yang menyebabkannya hampir kehilangan nyawa. Tapi perjalanan itu justru makin menyadarkan Rayya bahwa laki-laki yang dicintai dan tepat untuknya adalah Jonathan, suaminya.

Novel ini menjadi sedikit unik karena sarat bahasa Jerman berikut artinya. Membuat pembaca mendapatkan added value jika membacanya, sedikit belajar bahasa Jerman. Selain itu, saat membacanya, saya menemukan kejutan-kejutan kecil dengan peristiwa-peristiwa tidak terduga sebelumnya. Misalnya bagaimana kemesraan antara Franz dan Rayya yang ternyata meluangkan ruang masuknya Zarah, wanita lain yang dicintai Franz, juga pertemuannya dengan Jonathan.

Rere, demikian panggilan akrabnya, menggunakan kata-kata yang lugas dan tidak berpanjang-panjang dalam menjelaskan sebuah peristiwa. Metode seperti ini menguntungkan bagi penyuka bacaan ringan. Tetapi, jika ingin merangsang imaginasi hingga ikut terbawa kata-kata mungkin nanti Rere akan bisa menampilkannya di novel keduanya yang dijanjikan akan segera diterbitkan. Terlepas dari itu semua, hadirnya novel ini cukup memberikan hiburan segar kala senggang saat menunggu jam kuliah, menunggu pacar atau giliran antri ke dokter.

Rere yang dijumpai saat peluncuran bukunya pada 19 Desember lalu di toko buku Toga Mas berujar, “Bagi saya cinta itu adalah keikhlasan. Mencintai seseorang berarti siap untuk kehilangan orang itu,”. Hmmm…

sumber : andongmagz.com